GRANDPARENTING

Share

Oleh: Susi Rio Panjaitan

Secara sederhana grandparenting dapat diartikan sebagai partisipasi kakek nenek dalam membimbing, merawat, mendidik, mengasuh dan memberikan dukungan kepada cucu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di era modern ini, fenomena kakek nenek yang terlibat langsung dalam pengasuhan cucu semakin banyak. Di Amerika, menurut Laporan Biro Sensus Amerika Serikat, pada tahun 2021 ada sekitar 32,7% kakek-nenek yang tinggal bersama cucu mereka yang berusia di bawah usia 18 tahun bertanggung jawab atas perawatan mereka (https://www.census.gov/library/stories/2024/03/grandparents-living-with-grandchildren.html#:~:text=In%202021%2C%20there%20were%20an,most%20of%20their%20basic%20care.&text=In%202022%2C%20there%20were%2083.3,to%20the%20American%20Community%20Survey). Sampai tulisan ini dibuat, penulis belum menemukan data yang dikeluarkan oleh lembaga kredibel tentang jumlah kakek nenek di Indonesia yang terlibat langsung dalam pengasuhan cucu mereka. Walaupun demikian, menurut perkiraan penulis, jumlahnya tidak dapat dikatakan sedikit dan setiap tahun bertambah. Ini penulis simpulkan dari fakta yang muncul pada setiap seminar parenting di mana penulis terlibat. Selalu saja ada kakek nenek yang menghadirinya dan selalu saja ada kakek nenek yang aktif bertanya atau berkontribusi pendapat dalam seminar-seminar parenting tersebut.

Semakin banyaknya orang tua yang melibatkan kakek nenek dalam pengasuhan anak bukan tanpa alasan. Fenomena ini dipengaruhi oleh beragam faktor, baik sosial, ekonomi, maupun psikologis. Pertama: Banyak keluarga dengan kedua orang tua bekerja penuh waktu, sehingga waktu untuk mengasuh anak terbatas. Biaya pengasuh atau daycare yang tinggi membuat kakek-nenek menjadi alternatif yang lebih dipercaya dan terjangkau. Dalam beberapa kasus, terutama di perkotaan, kehadiran kakek-nenek menjadi penopang agar orang tua tetap bisa bekerja tanpa mengabaikan anak. Kedua: Kakek nenek dianggap lebih sabar, penuh kasih, dan dapat dipercaya dibandingkan pengasuh luar bahkan profesional. Orang tua merasa tenang meninggalkan anak pada kakek nenek karena memahami nilai-nilai, budaya dan tradisi keluarga. Cucu pun mendapat rasa aman dan ikatan emosional yang kuat melalui kehadiran kakek nenek. Ketiga: Banyak keluarga masa kini yang hidup dalam keluarga besar atau extended family, di mana beberapa generasi tinggal bersama. Dalam budaya Asia, termasuk Indonesia, kebersamaan lintas generasi masih dianggap wajar dan bernilai positif. Kakek nenek dipandang sebagai “penjaga nilai moral” dan “penyambung tradisi” keluarga. Keempat: Walaupun telah pensiun bahkan berusia lanjut (lansia), banyak kakek nenek yang tetap sehat. Hal ini membuat banyak kakek nenek mampu terlibat dalam pengasuhan. Selain itu, mereka juga ingin merasa berguna, dihargai, dan tetap dekat dengan keluarga, terutama di masa tua. Kelima: Orang tua muda sering menghadapi tekanan, stres, atau kebingungan dalam mengasuh anak. Kehadiran kakek nenek menjadi sumber dukungan emosional dan pengalaman praktis yang menenangkan dan sangat menolong. Keenam: Banyak pasangan muda merantau ke kota besar dan memerlukan bantuan keluarga yang bisa datang atau tinggal sementara dengan mereka untuk membantu mengasuh anak. Dalam konteks ini, grandparenting menjadi bentuk solidaritas keluarga lintas generasi. Ketujuh: Di banyak budaya, termasuk budaya Indonesia, pengasuhan anak dipandang sebagai tanggung jawab keluarga besar, bukan hanya orang tua biologis. Ada nilai spiritual dan moral yang diwariskan melalui keterlibatan kakek nenek.

Walaupun peran serta kakek nenek dalam pengasuhan anak mendatangkan banyak manfaat baik bagi anak, orang tua maupun kakek nenek yang terlibat, grandparenting mengandung resiko. Dalam laporan penelitian mereka yang dimuat pada Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME), Mukminah Hirlan dan Uswatun Hasanah menemukan bahwa pola pengasuhan grandparenting menimbulkan beberapa permasalahan pada anak, yakni: 1) anak merasa kurang dicintai, 2) tanda kelemahan pada orang tua, 3) anak dapat berontak apabila tidak merasa terpenuhi kebutuhannya, 4) tidak peduli dan selalu melawan, 5) susah diajak bekerjasama dan dikontrol, 6) orang tua tidak berdaya, 7) anak kurang percaya diri, dan 8) prestasi kurang baik (https://ejournal.mandalanursa.org/index.php/JIME/article/viewFile/3783/2825).

Oleh karena itu, agar grandparenting menjadi efektif, perlu keseimbangan antara kasih, komunikasi, dan batas peran. Berikut panduan agar grandparenting berjalan efektif dan harmonis.

Membangun Hubungan yang Hangat dan Penuh Kasih

Anak-anak membutuhkan rasa aman, penerimaan, dan kasih tanpa syarat. Kakek-nenek bisa menjadi “tempat pulang” yang menenangkan dan penuh cerita hidup. Kakek nenek perlu meluangkan waktu berkualitas bersama cucu, bukan hanya membantu fisik, tetapi juga mendengarkan, bercerita, dan memberi teladan. Kuncinya, kakek nenek menjadi figur yang mengasihi tanpa menghakimi.

Menjaga Komunikasi Terbuka dengan Orang Tua Anak

Komunikasi antara orang tua dan kakek nenek adalah fondasi utama. Diskusikan bersama hal-hal seperti pola disiplin, waktu bermain, aturan makan, dan penggunaan gawai. Kakek nenek harus menghindari memberi nasihat tanpa diminta atau mengkritik gaya pengasuhan anaknya. Jika orang tua anak meminta nasihat atau pandangan tentang anaknya, maka harus dilakukan dengan empati, bukan dengan mengkritik atau menggurui. Otoritas orang tua anak tidak boleh diambil alih, tetapi harus dihargai.

Menetapkan Batas Peran yang Sehat

Kakek nenek bukan pengganti orang tua, melainkan pendukung. Jangan sampai cucu menjadi “bingung” karena aturan berbeda antara di rumah orang tua dan di rumah kakek-nenek. Jika tinggal bersama, harus dibuat kesepakatan jelas tentang tanggung jawab pengasuhan, keputusan pendidikan, dan disiplin anak.

Memahami Kebutuhan Anak Zaman Sekarang

Anak-anak tumbuh di dunia digital yang serba cepat. Kakek nenek perlu memahami perbedaan generasi tanpa menilai negatif. Misalnya: tentang media sosial, bahasa, atau minat anak. Kakek nenek perlu juga mengikuti perkembangan zaman agar dapat menjadi role model yang relevan dan bijak. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kakek nenek belajar bersama cucu, dan tidak hanya memberi nasihat.

Memberikan Dukungan kepada Orang Tua Anak

Grandparenting efektif terjadi saat kakek nenek menjadi mitra dalam pengasuhan, bukan pengkritik. Kakek nenek perlu sekali mendukung orang tua secara moral dan emosional, apalagi saat mereka stres atau kewalahan. Tunjukkan kasih sayang kepada anak dan pasangannya (menantu). Ini akan memperkuat keharmonisan tiga generasi. Kakek nenek adalah sumber kekuatan, bukan sumber konflik.

Tanamkan Nilai-nilai Keluarga dengan Cara yang Relevan

Kakek nenek perlu menceritakan kisah hidup, nilai-nilai keluarga, dan iman melalui pengalaman nyata. Jadi, bukan hanya nasihat. Anak-anak lebih mudah memahami dan menyerap pembelajaran dan nilai-nilai melalui keteladanan dibandingkan kata-kata. Nilai-nilai keluarga yang biasanya bersumber dari budaya dan ajaran agama yang dianut harus diwariskan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan bermakna.

Keberhasilan grandparenting tidak hanya bergantung pada kakek nenek, tetapi juga pada sikap dan kebijaksanaan orang tua anak itu sendiri. Agar grandparenting berjalan efektif, harmonis, dan bermanfaat bagi perkembangan anak, orang tua memiliki peran kunci dalam membangun hubungan tiga generasi yang sehat. Pertama: Orang tua perlu menjalin komunikasi jujur dan penuh hormat dengan kakek nenek. Sampaikan dengan lembut nilai, aturan, dan kebiasaan yang ingin diterapkan pada anak! Dengarkan juga pandangan dan pengalaman mereka! Sering kali ada kebijaksanaan dari generasi sebelumnya yang harus dipelajari. Hindari nada menggurui! Jadikan komunikasi sebagai kolaborasi, bukan koreksi! Kedua: Jelaskan bahwa orang tua tetap menjadi penentu utama dalam pengasuhan anak, sementara kakek-nenek berperan sebagai pendukung! Hindari kebingungan pada anak akibat aturan yang bertentangan. Jika ada perbedaan pandangan, bicarakan secara pribadi kepada kakek nenek (bukan di depan anak)! Orang tua anak perlu bersikap tegas, tetapi harus tetap hormat. Ketiga: Mintalah pendapat atau bantuan kakek nenek dengan cara yang menunjukkan penghargaan, bukan sekadar “meminta tolong”! Libatkan kakek nenek dalam momen penting anak, misalnya ulang tahun, wisuda, kegiatan sekolah, atau doa bersama! Apresiasi keterlibatan mereka dengan ucapan terima kasih atau sikap hangat! Rasa dihargai membuat kakek nenek mau dan mampu berperan dengan sukacita, bukan sekedar kewajiban. Keempat: Kadang, gaya pengasuhan kakek nenek hanya berdasarkan pengalaman mereka di masa lalu. Padahal, berbeda konteks dengan masa sekarang. Oleh karena itu, orang tua perlu berbagin informasi terbaru dengan kakek nenek tentang kebutuhan anak masa kini. Misalnya soal screen time, nutrisi, atau komunikasi positif. Akan tetapi, harus dilakukan dengan nada “berbagi pengetahuan”, bukan “menyalahkan cara lama” atau menggurui. Kelima: Anak akan bingung jika mendengar perbedaan pendapat antara orang tua dan kakek nenek. Karena itu, orang tua dan kakek nenek harus  tampil kompak di depan anak, walau mungkin ada perbedaan di belakang layar. Orang tua dan kakek nenek harus satu suara dan satu arah di hadapan anak. Keenam: Ajarkan anak untuk menghormati dan menyayangi kakek neneknya! Dukung anak  belajar nilai kasih, empati, dan penghargaan terhadap orang yang lebih tua melalui interaksi langsung dengan kakek nenek! Perlu diingat bahwa kakek nenek adalah sumber nilai, bukan sekadar penjaga anak.

Agar grandparenting efektif, harus bersepakat, ada kesatuan hati, kesatuan pikiran, kesatuan suara dan kolaborasi yang baik antara kakek nenek dan orang tua anak. (SRP)

 

Share

Related posts

Leave a Comment